Kamis, 17 Oktober 2013

Memprihatinkan, Generasi Muda Lebih suka Nonton Sinetron dari pada Mengaji



Ulama yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Huzaemah Y. Tanggo prihatin melihat anak muda saat ini yang jauh dari kebiasaan membaca Al-quran.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengatakan ada perubahan drastis kebiasaan beragama masyarakat khususnya di masyarakat perkotaan. Dulu anak muda selalu dibiasakan untuk mengaji setelah habis Maghrib oleh para orang tua mereka, tapi saat ini kebiasaan tersebut memudar.

Bahkan, beberapa keluarga muslim ada yang tidak lagi membudayakan kebiasaan mengaji. Huzaemah menyatakan kondisi seperti ini sungguh memprihatinkan.

“Dulu anak-anak rajin mengaji habis Maghrib. Sekarang belum shalat Maghrib sudah dicokok dengan tayangan sinetron di televisi. Inilah contoh kemundurannya,” kata Huzaemah dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Al-quran di Serang Banten.

Ia menekankan kepada orang tua muslim agar mengembalikan kebiasaan ibadah yang sudah ditanamkan sejak mereka kecil tersebut bagi putra-putri mereka. Karena penekanan dari keluarga ini tidak kalah penting, bagaimana mengajarkan Al-quran sebagai pedoman hidup anak di kala mereka dewasa.

Keprihatinan juga datang dari Pakar Tafsir Al-quran Indonesia, Quraish Shihab. Ia mengatakan enggan nya generasi muda Islam membaca dan mempelajari Al-quran memang sangat memprihatinkan.

Quraish khawatir kedangkalan pemahaman Al-quran oleh generasi muda Islam ini apabila terus berkelanjutan dapat berdampak buruk bagi kualitas anak bangsa.

“Karena itu dibutuhkan pendekatan berbeda yang dilakukan oleh para guru, ustadz dan ulama kepada generasi muda agar tetap memiliki minat untuk membaca dan mempelajari Al-quran,” kata mantan Menteri Agama (Menag) era presiden Soeharto ini.

Quraish mengimbau ulama-ulama harus pandai-pandai menunjukkan betapa Al-quran bisa menjadi petunjuk riil bagi solusi permasalahan hidup para generasi muda.

“Harus dijabarkan secara merinci bagaimana teks Al-quran itu dapat menjawab realitas yang ada,” ujarnya.

Sumber : Dakwatuna

Sebait syair UJE kepada sang Bidadarinya

Isteriku.
Aku ingin tenang.

Biarkan aku tenang menghadap Khalik-ku,
Sudahi isakmu isteriku,
Aku tidaklah semu isteriku,
Bukankah berulangkali dulu kita membaca Hadist Rasulullah Shalallohu 'Alayhi Wasallam bahwa yang dinamai sabar itu adalah saat pertama kamu diberi ALLAH ujian?

Maka berhentilah menangis,
Suruhlah orang-orang itu untuk berhenti menanyakan kamu perihal suamimu,
Himbaulah mereka yang tidak mengerti itu untuk menjauhkan kamera dari wajahmu.
Itu membuat kamu dan membuat aku tidak tenang istriku.

Sampaikan terimakasih suamimu kepada mereka semua,
Siapa saja yang ikhlas berdoa untuk kebaikan aku disetiap waktu,
Cukuplah itu buatku.

Ketika kamu rindu,
Lihatlah anak-anakku,
Ketika kamu ingin kelak bertemu denganku,
Rawatlah dan didiklah anakku,
Berikan mereka tali buhul
ALLAH,
Ikatkan mereka dengan itu,
Tuntunlah agama anak-anakku,
Seperti apa kehendak aku dahulu.

Isteriku..
Maafkan aku,
Maafkan telah meninggalkan beban dan amanah yang sangat berat disisimu.
Tidaklah ALLAH menimpakan sesuatu diluar batas kesangguanmu.

ALLAH Maha Mengetahui.

Kamu itu mampu..

Ku nanti kamu dan anak-anakku dipintu syurga.


Aamiin.

Ya, mungkin begitulah UJE ucapkan di alam sana.

T_T
_____________________________ ______

Saudaraku se-iman se-agama, "aamiinkan" do'a ini sebanyak-banyaknya, dan silakan forward dengan cara klik share/bagikan postingan beriring do'a ini, Insya ALLAH Anda termasuk orang yang berdo'a dan dido'akan oleh seluruh ummat Islam, semoga kita, orang tua kita dan semuanya juga di ampuni semua dosa-dosa yang telah lalu, moga diberikan kemudahan dalam urusan dunia dan diberikan jodoh yang sholeh dan sholehah juga mendapatkan pahala yang berlipat ganda dan diwafatkan dalam keadaan khusnul khotimah, serta apa yang kita do'akan diterima oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala.

Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=160618694107485&set=a.159716220864399.1073741828.159591304210224&type=1&relevant_count=1

MASIHKAH MUSLIMAH ENGGAN BERJILBAB ?






Meski jilbab secara jelas disyariatkan oleh agama, banyak kaum Muslimah yang masih enggan menjalankan perintah itu. Di antara mereka ada yang menyatakan bahwa kewajiban menggunakan jilbab hanya berlaku bagi kaum Muslimah pada zaman dahulu, bukan untuk di zaman sekarang. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang menilai pemakaian jilbab dapat membatasi pergaulan dan mengganggu aktivitas.Dalam pandangan pakar tafsir, Dr Mukhlis Hanafi, apa pun alasan yang diajukan seorang Muslimah untuk tidak mengenakan jilbab, tidaklah dapat diterima. ”Nas-nas Alquran secara terang menjelaskan, menutup aurat itu wajib hukumnya. Dengan demikian, Muslimah yang enggan memakai jilbab berarti telah melanggar syariat. Adapun di balik itu misalnya ada alasan sosial atau yang lain, sudah menjadi hak prerogatif Allah untuk menentukannya. Apakah akan diberi hukuman atau ampunan,” katanya.

Secara sosial, mengenakan jilbab menjadi penting mengingat persinggungan antara kaum laki-laki dan perempuan sangat intensif. Berkaitan dengan pilihan-pilihan berjilbab, Mukhlis menuturkan, siapa pun bebas memilih bentuk-bentuk jilbab. Mau yang modis atau tidak modis, terserah. Yang penting adalah menutup aurat. Yang dikedepankan oleh Islam adalah substansi, bukan simbol.

Dalam sebuah dinamika hidup yang semakin terbuka ini, Abidah Muflihati, ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Nasyiatul Aisyiyah, menyayangkan kurang adanya korelasi positif antara perilaku Muslimah dan simbol pakaian yang dikenakan, jilbab. ”Secara ideal, orang yang berjilbab itu perilakunya juga baik. Dengan berperilaku baik, prinsip-prinsip agama tidak dijalankan setengah-setengah. Nilai dan simbolnya harus dijalankan sepenuhnya,” tuturnya.

Dengan semakin banyaknya produk jilbab sekarang ini, jelas Abidah, di satu sisi ada Muslimah yang mencerminkan semangat keislamannya naik. Tetapi, di sisi lain, ada juga Muslimah yang berjilbab hanya untuk memenuhi tuntutan mode. Prinsip-prinsip berjilbab dengan benar tidak diperhatikan.

”Tidak etis kalau memakai jilbab, tetapi pakaiannya ketat, atau kelihatan sebagian tubuhnya yang seharusnya wajib ditutupi. Padahal, kalau berjilbab dengan komitmen yang baik akan menimbulkan efek positif bagi kehidupan sosial, begitu juga sebaliknya,” paparnya.

Dengan demikian, komitmen dan kesadaran berjilbab adalah unsur penting yang harus disadari oleh para Muslimah. Tujuan utama syariat Islam mewajibkan jilbab adalah adalah untuk menjaga kehormatan kaum Muslimah sebagai hamba Allah yang mulia di mata-Nya dan manusia seluruhnya.

PERBEDAAN JELAS ANTARA KENIKMATAN DUNIA DAN SURGA

DALAM hidup ini terdapat dua unsur yang saling berlawanan. Keduanya datang silih berganti seperti siang dan malam, senang dan susah, sehat dan sakit. Jika salah satu unsur tersebut tidak ada atau dihilangkan, maka kehidupan di dunia ini tidak dapat berjalan.


 Di akhirat pun demikian, ada 2 hal yang saling berlawanan yaitu surga dan neraka. Namun bedanya jika di dunia kesenangan dan kesusahan menjadi satu, Sedangkan di akhirat keduanya dipisahkan. Orang baik tempatnya di surga bersama dengan segala kesenangan yang ada di dalamnya. Sedangkan orang jahat berada di neraka bersama dengan segala penderitaan yang telah disiapkan.

 Kehidupan di surga layaknya kehidupan di dunia; ada langit, tanah, sungai, pepohonan, tempat tinggal, pakaian, pasar dan sebagainya. Tetapi kualitas dan kuantitasnya jauh berbeda dengan apa yang ada di dunia.

 Selain itu, ada beberapa perbedaan yang sangat mencolok antara kenikmatan yang ada di surga dengan kenikmatan yang ada di dunia, diantaranya;

 Pertama, di surga manusia tidak mungkin mati. kematian adalah sesuatu yang menyebabkan kenikmatan menjadi tidak bernilai. Untuk apa manusia mengejar kesenangan dan kenikmatan dunia jika toh ujung-ujungnya ia akan merasakan sakitnya kematian.

 Orang yang hidupnya bergelimang harta dan kesenangan dunia tidak jauh berbeda dengan orang yang hidup miskin dan menderita ketika kematian menghampirinya. Yang akan membedakan hanyalah amal yang mereka lakukan selama hidup di dunia.

 Kedua, di surga manusia tidak akan sakit. Sakit dalam bentuk apapun tidak akan ada lagi di surga. Hati yang terluka, kaki yang tertusuk duri dan tubuh yang terbaring lemah di peraduan hanya terjadi di dunia.

 Ketiga, di surga manusia tidak menjadi tua. Kecantikan dan ketampanan akan segera pudar ketika manusia memasuki masa tua. Sampai detik ini pun belum ada obat-obatan yang mampu menjadikan kulit manusia tetap kencang dan cantik selamanya.

 Maka dari itu, merugilah orang-orang yang menghabiskan harta dan umurnya hanya untuk mengejar kesenangan dunia. Karena tubuh ini semakin hari akan semakin tua dan kehidupan ini semakin hari akan semakin berat.

 Keempat, di surga manusia tidak pernah sedih. Banyak sekali kejadian di dunia ini yang menyebabkan hati manusia bersedih. Entah itu kematian, kehilangan benda yang disayangi, kekurangan makanan dan yang lainnya. Itu terjadi karena kenyataan yang terjadi di lapangan sering tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh hati.

 Berbeda dengan kehidupan di surga, setiap keinginan yang terbersit dalam pikirian akan dapat diwujudkan secara langsung tanpa harus shabar menunggu apalagi sampai mengalami kegagalan. Disana tidak ada sesuatupun yang tidak disukai oleh manusia yang menyebabkan hatinya bersedih. Semua sesuai dengan apa yang diinginkannya bahkan lebih.

 Keempat perbedaan ini terangkum dalam hadits dari Abu Said al-Khudri dan Abu Hurairah r.a bahwasannya Rasulullah Saw bersabda: Seorang penyeru menyerukan (pada hari kiamat): sesungguhnya kalian hidup dan tidak akan mati selamanya, kalian sehat dan tidak akan sakit selamanya, kalian muda dan tidak akan tua selamanya, kalian bersenang-senang dan tidak akan bersedih selamanya. Itulah firman Allah Azza wa Jalla, “Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. al-A’raf: 43) (HR. Muslim No. 2837).

 Kiranya keempat kelebihan ini sudah cukup untuk menjadikan kenikmatan dunia tidak ada artinya jika dibandingkan dengan surga. Maka dari itu, bershabarlah atas semua ujian hidup di dunia. Tetaplah bertaqwa kepada Allah Swt. dimanapun kita berada.

Kisah Sahabat Rasulullah "Zahid", Zulfah, ijinkan aku meminangmu...

Bismillahirahmanirahim..

Untukmu para wanita sholehah yang cantik juga diberi banyak kecukupan… seandenya datang kepadamu lelaki baik, yang tidak tampan, kulitnya hitam, yang miskin namun hatinya terus berserah diri kepada Allah, datang kepadamu untuk meminta kamu jadi istrinya, apakah kamu akan menerima pinanganya? atau kamu akan dengan keras menolaknya?? seandenya juga datang pula sesorang yang kaya raya, pekerjaan tetap juga tampan datang pula melamarmu? siapa diantara kedua pria itu yang akan kamu terima lamaranya… si kayakah to si miskinkah? tanpa kamu jawab, maaf jika tidak sesuai…namun yang aku perhatikan jika melihat realita seperti sekarang ini, mungkin kamu akan lebih memilih si kaya, yach itu wajar. siapa yang ingin hidup menderita? itu pertanyaan yang kadang menyakitkan? menyakitkan buat si miskin.. sungguh kasian orang yang serba kekurangan dalam hidupnya… dimana-mana selalu diacuhkan, omongannya tidak didengar, apalgi pinannganya pasti sering ditolak, duhai para wanita muslimah yang sholeh. semoga engkau bisa melihat apa yang seringnya tidak bisa dilihat mata, padang didunia ditempuh dengan jalan kaki, sedang padang diakherat ditempuh dengan jalan hati…semoga kamu bisa melihatnya…

sebuah kisah, semoga bisa menjawab pertanyaanku….

Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.

“Wahai saudaraku Zahid”¦.selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.

“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.

“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.

Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”

” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”

Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”

Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”

Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?.”

Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini?. bukankah lebih disuruh masuk?”

“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.

Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah.!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.

(kata yang berctak tebal inilah yang aku maksud duhai sahabatku muslimah nan cantik…moga engkau bisa melihat apa yang sering kali tidak bisa dilihat mata)

Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”

Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”

Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”

Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid?”

“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.

“Sudah ada persiapan?”

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”

Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.

Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”

Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”

Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”

Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).

zahid ikut peperangan dengan penuh semangatnya, namun….

Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.

Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”

Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154). “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS 3: 169-170).

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”

ya Allah, wahai zat yang maha pengasih lagi maha penyanyang. apalah arti hidup hamba ini bila yang ada di hati kami hanyalah, uang, uang dan uang. kosongkanlah batin hamba dan hampalah jiwa hamba, Hamba hidup bukan untuk berkasih sayang karenaMu, buka untuk memilihara cinta darimu tapi malah pengejaran terhadap dunia..ampuni kami ya Rabb..

wahai zat yang maha pengasih dan penyayang, jangan biarkan hamba hidup tanpa air kasih sayang dan tanpa serpihan cinta darimu, sungguh pasti tersesatlah kami…

ya Allah, demi rasa cinta, kasih dan sayangmu kepada hamba dan atas dasar besaran kepercayaanmu, ampuniah segala kekurangan yang ada pada diri hamba, dan buatlah hamba menjadi lebih baik di hari-hari kedepan dalam menjaga amanahmu..

ya Rabb, ada 3 hal yang tidak bisa hamba ketahui yaitu, rejeki, jodoh dan mati, untuk itu hamba memohon kepadamu, apapun yang engkau takdirkan kepada hamba pasti itulah yang terbaik menurut engkau ya Allah, bukan menurut ukuran manusia..

untuk itu ya Allah, hati, pikiran dan cinta ini kupasrahkan diri hanya kepadamu..

TAARUF DALAM ISLAM

Taaruf adalah kegiatan bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bilang berkenalan bertatap muka, atau main/bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya. Bisa juga dikatakan bahwa tujuan dari berkenalan tersebut adalah untuk mencari jodoh. Taaruf bisa juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke jenjang khitbah - taaruf dengan mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan maksud agar saling mengenal.
Sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan, taaruf sangat berbeda dengan pacaran. Taaruf secara syar`i memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta’aruf adalah dari segi tujuan dan manfaat. Jika tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina, dan maksiat. Taaruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.

Perbedaan taaruf dengan pacaran

   Dalam pacaran, mengenal dan mengetahui hal-hal tertentu calon pasangan dilakukan dengan cara yang sama sekali tidak memenuhi kriteria sebuah pengenalan. Ibarat seorang yang ingin membeli mobil second, tapi tidak melakukan pemeriksaan, dia cuma memegang atau mengelus mobil itu tanpa pernah tahu kondisi mesinnya. Bahkan dia tidak menyalakan mesin atau membuka kap mesinnya. Bagaimana mungkin dia bisa tahu kelemahan dan kelebihan mobil itu.
  Sedangkan taaruf adalah seperti seorang montir mobil yang ahli memeriksa mesin, sistem kemudi, sistem rem, sistem lampu dan elektrik, roda dan sebagainya. Bila ternyata cocok, maka barulah dia melakukan tawar-menawar. Ketika melakukan taaruf, seseorang baik pihak pria atau wanita berhak untuk bertanya yang mendetil, seperti tentang penyakit, kebiasaan buruk dan baik, sifat dan lainnya. Kedua belah pihak harus jujur dalam menyampaikannya. Karena bila tidak jujur, bisa berakibat fatal nantinya. Namun secara teknis, untuk melakukan pengecekan, calon pembeli tidak pernah boleh untuk membawa pergi mobil itu sendiri.

Proses taaruf

Dalam upaya ta’aruf dengan calon pasangan, pihak pria dan wanita dipersilakan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan. Tapi tentu saja semua itu harus dilakukan dengan adab dan etikanya. Tidak boleh dilakukan cuma berdua saja. Harus ada yang mendampingi dan yang utama adalah wali atau keluarganya. Jadi, taaruf bukanlah bermesraan berdua, tapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang berdua.

Tujuan taaruf

Taaruf adalah media syar`i yang dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap calon pasangan. Sisi yang dijadikan pengenalan tidak hanya terkait dengan data global, melainkan juga termasuk hal-hal kecil yang menurut masing-masing pihak cukup penting. Misalnya masalah kecantikan calon istri, dibolehkan untuk melihat langsung wajahnya dengan cara yang seksama, bukan cuma sekedar curi-curi pandang atau ngintip fotonya. Justru Islam telah memerintahkan seorang calon suami untuk mendatangi calon istrinya secara langsung face to face, bukan melalui media foto, lukisan atau video.
Karena pada hakikatnya wajah seorang wanita itu bukan aurat, jadi tidak ada salahnya untuk dilihat. Khusus dalam kasus taaruf, yang namanya melihat wajah itu bukan cuma melirik-melirik sekilas, tapi kalau perlu dipelototi dengan seksama. Periksalah apakah ada jerawat numpang tumbuh di sana. Begitu juga dia boleh meminta diperlihatkan kedua telapak tangan calon istrinya. Juga bukan melihat sekilas, tapi melihat dengan seksama. Karena telapak tangan wanita bukanlah termasuk aurat.

Manfaat Taaruf

   Selain urusan melihat fisik, taaruf juga harus menghasilkan data yang berkaitan dengan sikap, perilaku, pengalaman, cara kehidupan dan lain-lainnya. Hanya semua itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan dalam koridor syariat Islam. Minimal harus ditemani orang lain baik dari keluarga calon istri atau dari calon suami. Sehingga tidak dibenarkan untuk pergi jalan-jalan berdua, nonton, boncengan, kencan, nge-date dan seterusnya dengan menggunakan alasan taaruf. Janganlah ta`aruf menjadi pacaran, sehingga tidak terjadi khalwat dan ikhtilath antara pasangan yang belum jadi suami-istri ini.

SEMOGA BERMANFAAT...

TUJUAN PERNIKAHAN DALAM ISLAM

Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi.
Pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah (melalui jenjang pernikahan). Bukan dengan cara yang amat kotor menjijikan seperti cara-cara orang sekarang seperti: berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang jauh dan diharamkan oleh Islam.

Untuk membentengi ahlak yang luhur.
Sasaran utama dari disyari'atkannya pernikahan dalam Islam di antaranya ialah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji yang telah menurunkan dan meninabobokan martabat manusia yang luhur. Islam memandang pernikahan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efektif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan serta melindungi masyarakat dari kekacauan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih Menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).
 
Untuk menegakkan rumah tangga yang islami.
Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya Thalaq (perceraian). Jika suami istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah: "Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zhalim". (Al-Baqarah : 229).

Yakni keduanya sudah tidak sanggup melaksanakan syari'at Allah. Dan dibenarkan rujuk (kembali nikah lagi) bila keduanya sanggup menegakkan batas-batas Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam lanjutan ayat di atas: "Kemudian jika si suami menthalaqnya (sesudah thalaq yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dinikahkan dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami yang pertama dan istri) untuk nikah kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, diterangkannya kepada kaum yang (mau) mengetahui". (Al-Baqarah: 230).

Jadi tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri melaksanakan syari'at Islam dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari'at Islam adalah WAJIB. Oleh karena itu setiap muslim dan muslimah yang ingin membina rumah tangga yang Islami, ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan yang ideal yaitu: (a) sesuai kafa'ah; dan (b) shalih dan shalihah.

Kafa'ah menurut konsep islam
Pengaruh materialisme telah banyak menimpa orangtua. Tidak sedikit pada zaman sekarang ini orang tua yang memiliki pemikiran, bahwa di dalam mencari calon jodoh putra-putrinya, selalu mempertimbangkan keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja. Sementara pertimbangan agama kurang mendapat perhatian. Masalah Kufu' (sederajat, sepadan) hanya diukur lewat materi saja.
Menurut Islam, kafa'ah (atau kesamaan/kesepadanan/ sederajat dalam pernikahan) dipandang sangat penting karena dengan adanya kesamaan antara kedua suami istri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami Insya Allah akan terwujud. Tetapi kafa'ah menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta akhlaq seseorang. Allah memandang sama derajat seseorang baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya. Tidak ada perbedaan dari keduanya kecuali derajat taqwanya.

Firman Allah: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal". (Al-Hujurat : 13).

Dan mereka tetap sekufu' dan tidak ada halangan bagi mereka untuk menikah satu sama lainnya. Wajib bagi para orangtua, pemuda, pemudi untuk meninggalkan faham materialis dan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang Shahih. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Wanita dikawini karena empat hal : Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka". (Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim).
 
Memilih yang shalih dan shalihah
Lelaki yang hendak menikah harus memilih wanita yang shalihah dan wanita harus memilih laki-laki yang shalih. Menurut Al-Qur'an: "Wanita yang shalihah ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, olkeh karena Allah telah memelihara (mereka)". (An-Nisaa : 34). Menurut Al-Qur'an dan Al-Hadits yang Shahih di antara ciri-ciri wanita yang shalihah ialah : "Ta'at kepada Allah, ta'at kepada Rasul, memakai jilbab (pakaian) yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah (Al-Ahzab : 32).

Tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahram, ta'at kepada orangtua dalam kebaikan, ta'at kepada suami dan baik kepada dan lain sebagainya". Bila kriteria ini dipenuhi Insya Allah rumah tangga yang Islami akan terwujud. Sebagai tambahan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih wanita yang peranak dan penyayang agar dapat melahirkan generasi penerus umat.
 
Untuk meningkatkan ibadah kepada Allah.
Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadatan dan amal shalih di samping ibadah dan amal-amal shalih yang lain. Sampai-sampai bersetubuh (berhubungan suami-istri) pun termasuk ibadah (sedekah). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah!." Mendengar sabda Rasulullah itu para shahabat keheranan dan bertanya: "Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?" Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab: "Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? "Jawab para shahabat : "Ya, benar". Beliau bersabda lagi : "Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala!". (Hadits Shahih Riwayat Muslim, Ahmad dan Nasa'i dengan sanad yang Shahih).

Untuk mencari keturunan yang shalih dan shalihah.
Tujuan pernikahan diantaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam. Allah berfirman: "Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?". (An-Nahl : 72).

Yang tak kalah pentingnya, dalam pernikahan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas yaitu mencetak anak yang shalih dan Shalihah serta bertaqwa kepada Allah SWT. Keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan tarbiyah Islam (pendidikan Islam) yang benar. Disebutkan demikian karena banyak "Lembaga Pendidikan Islam", tetapi isi dan metodanya tidak Islami. Sehingga banyak terlihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq Islami sebagai akibat pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar.

Islam memandang bahwa pembentukan keluarga merupakan salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.