Jaman keemasan Islam yang berlangsung selama periode Abbasiyah di
Baghdad (750 -1258) dan Bani Umaiyyah di Spanyol (755-1492), tinggal
kenangan belaka.
"Pada jaman orang-orang Eropa masih menyelam
dalam kebiadaban yang teramat gelap, Baghdad dan Cordova, dua kota
raksasa Islam telah menjadi pusat peradaban yang menerangi seluruh dunia
dengan cahaya gilang gemilangnya." demikian kata Dr. Gustave Le Bone.
Dalam
permulaan abad pertengahan tak satu bangsapun yang lebih besar
sumbangannya untuk proses kemajuan manusia selain dari bangsa Arab.
Mahasiswa2 Arab sudah asyik mempelajari Aristoteles tatkala Karel Agung
bersama pembesar2 nya masih asyik belajar menulis namanya. Disekitar
abad X, Cordova adalah kota kebudayaan yang ternama di Eropa dengan
Konstantinopel dan Baghdad merupakan kota-kota pusat kebudayaan didunia.
Demikianlah
sekilas pandangan bila kita mempercayai sejarah jaman keemasan Islam
dimasa lampau. Ataukah sejarah tersebut telah mendustai kita ?
Kepada
mereka yang menjadi pekerjaannya silahkan mengadakan penelitian
kembali, dan kepada mereka yang mempercayai catatan sejarah itu bangga
dan bergembira hatilah. Lalu bertanyalah: Kenapa sedemikian
mengagumkannya Islam dimasa itu ? Dan kenapa golongan Islam sekarang ini
bisa dipecundangi oleh golongan lain sedemikian hinanya ? Sekian banyak
lagi pertanyaan kita ajukan, tetapi kepada siapa ?
Barangkali
belum pernah Islam menghadapi bencana yang lebih besar dari apa yang
mereka hadapi pada dewasa ini. Begitu besar tantangan yang yang harus
dihadapinya sehingga dia dipaksa "menyerah kalah" kepada "Tuhan dunia"
yang baru.
*Tuhan dunia yang baru itu tak lain daripada kaum
Imperialisme, Materialisme, kelompok Eksistensialis, Orientalis dan
Atheis plus Skeptik. Manusia tidak lagi percaya bahwa Tuhan adalah
penyelamat bumi dan langit yang Maha Sempurna bahkan sebagian besar
orang Islam sendiri sudah tidak pula mempercayai-Nya.
Mereka
mencari ide-ide baru dalam rangka menyusun sistem kenegaraan yang mereka
pikir sangat ideal. Mereka menggali pula "pendapat" baru untuk menata
masyarakat. Dan semua golongan itu mereka temukan dalam kepada golongan
yang telah disebutkan diatas (*). Lalu mereka memuja isi kepala (otak)
penemu-penemu ide baru itu dan mereka pikir dengan demikian mereka telah
menemukan tatanan baru.
Satu pertanyaan:
Jika manusia telah menemukan tatanan baru yang disebut Ideal itu benar adanya, mengapa kejadiannya malah sebaliknya ?
Bukan masyarakat ideal yang mereka temui tetapi malah keadaan masyarakat yang kacau balau !
Diluar
kawasan Islam telah terjadi konfrontasi antara ilmu dengan agama. Hal
itu terjadi dalam jaman tengah dibarat. Setiap keterangan ilmu yang
tidak sepaham dengan gereja segera dibatalkan oleh Kepala Gereja.
Itulah
yang terjadi pada Astronom Nicholas Copernicus (1507) yang menghidupkan
kembali ajaran orang-orang Yunani dijaman purba yang mengatakan bahwa
bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi sebagaimana ajaran gereja
dan tercantum pada Yosua 10:12-13, melainkan bumi yang berputar dan
mengedari matahari.
Galileo Gelilei yang membela teori tersebut
pada tahun 1633 diancam hukuman bakar seandainya dia tidak mencabut
kembali teori tersebut oleh Inkuisisi, yaitu organisasi yang dibentuk
oleh gereja Katolik Roma yang menyelidiki ilmu klenik sehingga sikap
gereja yang kaku itu telah menimbulkan tuduhan bahwa agama menjadi
penghalang bagi kemerdekaan berpikir dan kemajuan ilmu.
Dari keadaan demikian terjadilah berbagai pemberontakan dari dalam.
Pada tahun 1517 terjadi reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther sehingga menimbulkan kelompok Protestan.
Pada
tahun 1992, yaitu setelah 359 tahun kecaman kepada Galileo dilontarkan
oleh pihak gereja, akhirnya gereja Katolik Roma secara resmi mengakui
telah melakukan kesalahan terhadap Galileo Gelilei dan Paus Yohanes
Paulus II sendiri telah merehabilitasinya.
Rehabilitasi diberikan
setelah Paus Paulus menerima hasil studi komisi Akademis Ilmu
Pengetahuan Kepausan yang dia bentuk 13 tahun sebelumnya dengan tugas
menyelidiki kasus itu. Komisi ini memberitahukan, anggota Inkuisisi tang
mengecam Galileo telah berbuat kesalahan. Mereka menetapkan keputusan
secara subjektif dan membebankan banyak perasaan sakit pada ilmuwan yang
kini dipandang sebagai bapak Fisika Eksperimental itu.
"Kesalahan
ini harus diakui secara jantan sebagaimana yang Bapa Suci minta",
demikian kata ketua Komisi Kardinal Paul Poupard pada Paus Paulus dalam
suatu upacara.
Paulus Yohanes dan beberapa pendahulunya mengakui
bahwa gereja melakukan kesalahan, tapi para ilmuwan mengkritik Vatican
karena tidak bergerak cepat untuk meluruskan masalah itu secara resmi.
Jauh
sebelum Paus Yohanes Paulus II merehabilitasi Galileo, Napoleon
Bonaparte seorang tokoh besar Prancis pernah menyatakan mengenai ketidak
seimbangan antara iman dan akal yang telah diterapkan dalam Bible
sehingga dia menjadi murtad dari agamanya tersebut dan beralih kepada
Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw yang membuka diri
terhadap perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi sebagai salah satu
sarana dalam pencapaian kepada Tuhan.
Selanjutnya perkembangan
berpikir semakin pesat dan ilmu pengetahuan pun semakin berkembang dan
melahirkan pendapat bahwa segala sesuatu itu dapat dijangkau oleh daya
pikir. Segala sesuatu yang tidak masuk akal adalah nol, tidak ada. Dalam
masa itu muncullah Rene Descartes (1598-1650) tampil kepanggung
revolusi.
Hanya buah pikiran yang terang benderang yang dapat
diterima. Dia berpendapat bahwa alam itu berjalan secara mekanis.
Descartes juga berpendapat bahwa hanya akallah yang menjadi sumber
pengetahuan.
Begitu juga dalam soal kenegaraan, Machiavelli
(1469-1527) tampil mewakili pendapat baru. Dia mengobarkan pemisahan
gereja dan agama serta kenegaraan harus dipisahkan.
Pada akhirnya
tampil pula golongan Materialisme, paham mana memperkuat barisan anti
agama. Golongan Atheisme kemudian mengatakan bahwa : Tuhan adalah
manifestasi dari khayalan manusia, oleh karenanya agama adalah racun
bagi rakyat. Demikianlah kelak yang menjadi doktrin Karl Marx.
Manifestasi
atau sebab dari revolusi pikiran itu kemudian melahirkan berbagai
bentuk filsafat dan tatanan masyarakat "dunia baru" sebagaimana yang
nampak dewasa ini. Salah satu yang jelas adalah Imperialisme. Kemudian
terpisahnya agama dari gelanggang politik dan ekonomi. Agama yang
tersebut diatas dianggap "tidak mampu memberikan interpretasi" atas
kemajuan serta pesatnya ilmu (otak) manusia bumi, Dan terakhir tibalah
jaman Individualisme.
Kita dapat menyimpulkan bahwa lahirnya
berbagai golongan yang tersebut (Materialisme, Atheisme, Imperialisme,
Individualisme, Orientalis dsb) adalah karena agama yang mereka anut
tidak mampu memecahkan persoalan yang mereka hadapi sehingga mereka
mencari pemecahan sendiri yang sangat berlawanan dengan agamanya.
Dengan
demikian dapatlah kita menilai sampai dimana kebenaran agama tersebut.
Sebagai agama, dia ditantang oleh para manusia penganutnya. Jadi,
pemeluknya lebih pandai dari ajaran agama itu sendiri.
Dan
ternyata pula kemudian bahwa penemuan-penemuan yang diperoleh oleh ahli
pikir tadi tidak pernah terpikir atau terdapat dalam kitab suci agama
mereka! Bagaimanakah suatu kitab suci dapat membela dirinya dari kasus
seperti itu ?
Itulah salah satu penyebab mengapa Karl Marx
berkata : "Religion is the sigh of the oppressed creature the heart of
heartless world, just as it is the spirit of a spiritless situation. It
is the opium of the people".
Dalam hal ini ... siapakah diantaranya yang salah ?
Marx atau agama ?
Kiranya
semua orang berpendapat bahwa agama harus mampu menjawab dengan benar
setiap pertanyaan dan masalah manusia sampai tuntas sehingga manusia
puas atas kebenarannya. Jika agama tersebut tidak kuasa menjawab dengan
benar, maka berarti dia berasal dari Tuhan yang lebih bodoh dari
manusia.
Pengertian harakah (gerakan) dalam Islam berbeda dengan
apa yang diungkapkan sebagian doktrin dan agama lainnya. Pengertian ini
timbul sebagai asas dari keselarasan antara pasangan-pasangan Material
dan Immaterial, fisika dan metafisika, bumi dan langit, ilmu dan iman,
manusia dan Allah, panas dan dingin serta lain sebagainya yang
meletakkan pada dasar keseimbangan.
Hilangnya salah satu ujung
dari ujung-ujung perseimbangan ini akan memisahkan agama Allah dari
kemampuan untuk bergerak dan menyebar.
Disini celah-celah
pembicaraan mengenai pendirian dari Sains, tampaklah kerapatan hubungan
tersebut secara kokoh, yaitu kerapatan hubungan antara Islam dan hakikat
Sains serta sumbangsihnya.
Namun ini tidak menghalang-halangi
kita untuk memandang bagian-bagian yang sarat akan setiap hakikat
Qur'aniah yang bersumber dari Ilahi, dan tidak bisa dinamai -secara
metaphoris atau figuratif- hakikat ilmiah yang bersumber dari manusia
karena disana ada garis pemisah dilihat dari segi berubah-ubahnya kedua
sumber ini, yaitu garis pemisah yang terbentang diantara ilmu Ilahi dan
ilmu Basyari (manusia).
Ilmu Ilahi yang memberi kita sebagian
pemberiannya dalam Islam berisi hakikat -hakikat dan
penyerahan-penyerahan yang mutlak. Sesuatu yang batil tidak datang dari
depannya dan tidak pula dari belakangnya, yaitu ketika
pemberian-pemberian ilmu Basyari menjadi tertahan oleh relativitasnya,
kekacauannya dan perubahannya.
Dalam ilmu Basyari tiada hakikat
final. Para ilmuwan sendiri -setelah melalui eksperimen dengan segala
perlengkapannya- berkesudahan sampai kepada hasil ini bahwa
pemberian-pemberian Sains hanyalah kemungkinan-kemungkinan belaka,
kadang salah kadang tepat, dan penyingkapan-penyingkapannya adalah
penyifatan bagi yang tampak, bukan interpretasi baginya.
Allah
Swt mengajarkan kepada manusia melalui Rasul-Nya, bahwa isi AlQur'an itu
tidak lain dari fitrah manusia, petunjuk bagi manusia untuk mengenal
dirinya dan lingkungannya.
Sayangnya umat Islam selama ini
cenderung lari dan mengingkari kefitrahan yang dimaksudkan oleh AlQur'an
itu sendiri. Kaum muslimin tidak lebih mengerti AlQur'an ketimbang
orang diluar Islam sendiri. Agama Islam menjadi asing dalam
lingkungannya sendiri, tepat seperti yang pernah disabdakan oleh
Rasulullah dalam berbagai Hadist Shahih.
Allah telah menentukan
bahwa kesadaran manusia datangnya berangsur, bertahap sesuai dengan
perkembangan peradaban yang Dia tetapkan lebih dahulu.
AlQur'an
juga mengajarkan bahwa tiada iman yang tidak diuji, karenanya kaum
Muslimin harus mempersiapkan diri menghadapai ujian Allah yang sangat
berat sekalipun. AlQur'an juga mengajarkan bahwa ia merupakan petunjuk
yang sebaik -baiknya untuk membina kehidupan umat, itulah kewajiban kaum
Muslimin untuk membuktikan kebenarannya !
Bukan kewajiban Allah untuk membuktikan kebenaran firmanNya ! Sebab firman itu benar dengan sendirinya.
Dengan
modal kejujuran, kita bisa membaca sikap kita selama ini: meminta,
menuntut agar Allah membuktikan kebenaran firmanNya ! Karena kita tidak
mengerti apa makna ajaran Allah !
Coba anda belajar pada orang Jepang tentang ilmu membuat mobil dan orang Jepang akan memberikan buku serta rumus-rumusnya.
Tugas
anda adalah untuk membuktikan kebenaran ilmu-ilmu yang anda terima dari
Jepang, dan bukan menagih agar orang Jepang membangun industri mobil di
Indonesia dengan ilmu-ilmu mereka itu, serta bukan pula dengan jalan
hanya menghapalkan dengan melagukan ilmu-ilmu membuat mobil itu semata
dengan harapan anda akan menjadi pintar dengan sendirinya sehingga
tiba-tiba anda bisa menciptakan mobil tersebut dengan sim salabim !
Begitulah
AlQur'an, sebagai satu sarana untuk menghadapi ujian Allah tentang
keimanan, kita harus belajar, belajar, berjuang dan berjuang agar kita
bisa merealisasikan kebenaran ayat-ayat itu. Memang tidak mungkin jika
ilmu Allah termuat dengan rinci dalam AlQur'an, karena AlQur'an sendiri
sudah mengkiaskan bahwa ilmu Allah itu tidak bisa dituliskan dengan
tinta sebanyak air dilautan sekalipun.
AlQur'an hanyalah satu
petunjuk yang menunjukkan bahwa Ilmu Allah terdapat dimana-mana, diluar
dan dalam diri manusia itu sendiri. Suatu petunjuk yang sempurna yang
harus dikaji dengan otak, perasaan dan logika pengetahuan. Bukan sekedar
menagih kepada Allah untuk merealisasikan janjiNya !
Islam terlahir "TIDAK dengan bermahdzab", Islam adalah satu.
Tidak ada Islam Hanafi, Islam Hambali atau Islam Syafe'i.
Bahkan 'Islam Muhammad' pun tidak pernah ada, apalagi Islam Ahmadiyah !
Islam
adalah agama Allah, agama yang berdasarkan fitrah manusia dan agama
yang diturunkan kepada semua Nabi dan Rasul sebelum kedatangan Muhammad
Saw.
Seluruh umat Islam bertanggung jawab untuk menyampaikan dan
menyebarluaskan risalah Islam. Tidak ada perbedaan, kecuali perbedaan
kadar dalam memahami Kitabullah dan Sunnah Rasul. Dan tidak ada
seorangpun yang memperoleh izin khusus, sekalipun dia memiliki kemampuan
dan pengakuan yang tertinggi dalam bertabligh untuk dapat menghalalkan
yang diharamkan Allah, atau mengharamkan yang telah dihalalkanNya.
Kondisi
umat Islam secara konvensional sekarang ini telah menunjukkan umat yang
terbelakang, cara berpikir yang tidak strategis tetapi taktis, tidak
mengambil prakarsa atau defensif, terbawa inisiatif kebudayaan dan
apologetis yang menyebabkan umat Islam berada diluar garis perjuangan.
Dalam
hal pentafsiran kitabullah, memahami isi kandungannya, umat Islam tidak
bisa terpaku hanya kepada penafsiran/penterjemahan serta logika
orang-orang terdahulu yang yang sudah pernah ada semata, sebab seiring
dengan perkembangan tata bahasa dan pengertian serta perkembangan dari
peradaban ilmu dan tekhnologi, maka akan banyak pula istilah-istilah
yang lebih tepat didalam pengartian suatu ayat, menganalisanya dengan
Ilmu pengetahuan sekaligus memahaminya secara baik.
Setiap orang
boleh mengungkapkan makna kitab suci AlQur'an. Karenanya penafsiran
AlQur'an bukan monopoli para imam dan mudjtahid (pemimpin agama dan
pemegang wewenang tertinggi dalam bidang hukum).
Islam bukanlah
agama yang penuh misteri, begitupun AlQur'an sebagai kitab sucinya, yang
hanya dapat dimengerti oleh sekelompok jemaah tertentu.
Rasulullah
Muhammad Saw tidak meninggalkan dunia yang fana ini kecuali setelah ia
menyampaikan amanat dan menunaikan risalahnya. Rasulullah kemudian
meminta para pengikutnya dan semua sahabat-sahabatnya untuk
menyebarluaskan dan menyampaikan ajaran-ajaran Ilahi yang telah mereka
peroleh darinya.
Manusia dianjurkan oleh Allah melalui Dienul
Islam supaya berpikir dan merenungkan kekuasaan serta memperhatikan alam
ciptaan-Nya. Karena berpikir adalah merupakan salah satu dari fungsinya
akal yang dimiliki oleh manusia. Jika akal tidak berfungsi, maka
manusia telah kehilangan milik satu-satunya yang menjadikannya makhluk
utama dan istimewa diatas bumi dan tidak dapat lagi berperan dalam
kehidupan selaku manusia yang berpredikat Khalifatullah fil ardl.
Para
cendikiawan telah sepakat bahwa pikiran yang bebas dan akal yang
kreatif adalah pangkal kemajuan umat manusia, sedangkan pikiran yang
terbelenggu dan akal yang tidak berinisiatif dan hanya pandai meniru
serta bertaqlid buta menjadi penghambat kemajuan individu dan umat.
Oleh
sebab itulah Rasulullah Saw mengisyaratkan kepada umatnya tentang
fungsi dan kegunaan akal yang sebenarnya agar manusia tidak salah
menempatkan derajat kemanusiaannya.
Dalam salah satu Hadistnya,
Rasulullah Saw bersabda: Bahwa akal itu terbagi dalam tiga
bagian/fungsi. Sebagian untuk Ma'rifatullah, sebagian untuk Tha'tullah
dan sebagian lagi untuk Ma'siatillah.
Golongan Materialis dan
sejenisnya menyimpulkan karena Tuhan itu tidak rasionil dan tidak bisa
pula dibuktikan secara laboratories maka Tuhan itu tidak ada ! Mereka
hanya bisa mempercayai sesuatu kalau ada buktinya, ada barangnya.
Manusia dapat mempercayai atom dan pecahannya karena ia dapat dibuktikan lewat laboratorium. Begitu halnya gelombang.
Lalu bagaimanakah Tuhan dapat dibuktikan ?
Kenapa orang beragama dan terlebih lagi Islam percaya pada adanya Allah ?
Emmanuel
Kant (1724-1804) seorang filusuf besar Jerman yang masih besar
pengaruhnya sampai sekarang dalam berbagai lapangan hidup pada jaman
Rasionalisme abad ke-18 semboyannya ialah "Sapere Aude" => Beranikan
mengunakan akalmu !
Namun dalam bukunya Kritik der theoritiche
vernunft ditandaskan bahwa penyelidikan dengan akal benar dapat
memberikan suatu pengetahuan tentang dunia yang nampak itu, akan tetapi
akal sendiri tidak sanggup memberikan kepastian -kepastian dan bahwa
berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan terdalam tentang Tuhan, manusia,
dunia dan akhirat akal manusia tidak mungkin memperoleh
kepastian-kepastian melainkan hidup dalam pengandaian-pengandaian
beragam postulat.
E. Kant yang raksasa ahli pikir itu insyaf
bahwa hakekat itu tidak dapat dicapai dengan akal yang terbatas ini.
Baru akan bertemu bila akal dipisahkan dari diri dan dijadikan orang
ketiga untuk mempertemukan si aku dan si dia, padahal itu mustahil.
Untuk
mengenal Allah, maka jalan satu-satunya ialah memikirkan, merenungkan
dan menyelidiki makhluk ciptaan-Nya disamping mengenal sifat-sifatNya
yang dapat dijadikan pegangan dan sekaligus akan melahirkan sifat atau
sikap yang terpuji bagi seseorang.
Tanyakanlah pada diri anda sendiri "Mengapa bumi dan langit bisa sehebat ini, bagaimana
jaring-jaring
kehidupan (ekologi) bisa secermat ini, apa yang membuat semilyar atom
bisa berinteraksi dengan harmoni, dan dari mana hukum-hukum alam bisa
seteratur ini ?".
Pada masa lalu, keterbatasan pengetahuan
manusia sering membuat mereka cepat lari pada "sesembahan" mereka setiap
ada fenomena yang tak bisa mereka mengerti (misal petir, gerhana
matahari). Kemajuan ilmu pengetahuan alam kemudian mampu mengungkap cara
kerja alam, namun tetap tidak mampu memberikan jawaban, mengapa semua
bisa terjadi.
Ilmu alam yang pokok penyelidikannya materi, tak
mampu mendapatkan jawaban itu pada alam, karena keteraturan tadi tidak
melekat pada materi. Contoh yang jelas ada pada peristiwa kematian.
Meski beberapa saat setelah kematian, materi pada jasad tersebut praktis
belum berubah, tapi keteraturan yang membuat jasad tersebut bertahan,
telah punah, sehingga jasad itu mulai membusuk.
Bila di masa
lalu, orang mengembalikan setiap fenomena alam pada suatu "sesembahan"
(petir pada dewa petir, matahari pada dewa matahari), maka seiring
dengan kemajuannya, sampailah manusia pada suatu fikiran, bahwa pasti
ada "sesuatu" yang di belakang itu semua, "sesuatu" yang di belakang
dewa petir, dewa laut atau dewa matahari, "sesuatu" yang di belakang
semua hukum alam.
Kemampuan berfikir manusia tidak mungkin
mencapai zat Tuhan. Manusia hanya memiliki waktu hidup yang terhingga.
Jumlah materi di alam ini juga terhingga. Dan karena jumlah
kemungkinannya juga terhingga, maka manusia hanya memiliki kemampuan
berfikir yang terhingga. Sedangkan zat Tuhan adalah tak terhingga
(infinity).
Karena itu, manusia hanya mungkin memikirkan sedikit
dari "jejak-jejak" eksistensi Tuhan di alam ini. Adalah percuma,
memikirkan sesuatu yang di luar "perspektif" kita.
Karena itu,
bila tidak Tuhan sendiri yang menyatakan atau "memperkenalkan" diri -Nya
pada manusia, mustahil manusia itu bisa mengenal Tuhannya dengan benar.
Ada manusia yang "disapa" Tuhan untuk dirinya sendiri, namun ada juga
yang untuk dikirim kepada manusia-manusia lain. Hal ini karena
kebanyakan manusia memang tidak siap untuk "disapa" oleh Tuhan.
Tuhan
mengirim kepada manusia utusan yang dilengkapi dengan tanda-tanda yang
cuma bisa berasal dari Tuhan. Dari tanda-tanda itulah manusia bisa tahu
bahwa utusan tadi memang bisa dipercaya untuk menyampaikan hal-hal yang
sebelumnya tidak mungkin diketahuinya dari sekedar mengamati alam
semesta. Karena itu perhatian yang akan kita curahkan adalah menguji,
apakah tanda-tanda utusan tadi memang autentik (asli) atau tidak.
Pengujian
autentitas inilah yang sangat penting sebelum kita bisa mempercayai
hal-hal yang nantinya hanyalah konsekuensi logis saja. Ibarat seorang
ahli listrik yang tugas ke lapangan, tentunya ia telah menguji
avometernya, dan ia telah yakin, bahwa avometer itu bekerja dengan benar
pada laboratorium ujinya, sehingga bila di lapangan ia dapatkan hasil
ukur yang sepintas tidak bisa dijelaskanpun, dia harus percaya alat itu.
Karena
yakin akan autentitas peralatannya, seorang astronom percaya adanya
galaksi, tanpa perlu terbang ke ruang angkasa, seorang geolog percaya
adanya minyak di kedalaman 2000 meter, tanpa harus masuk sendiri ke
dalam bumi, dan seorang biolog percaya adanya dinosaurus, tanpa harus
pergi ke zaman purba.
Keyakinan pada autentitas inilah yang
disebut "iman". Sebenarnya tak ada bedanya, antara "iman" pada
autentitas tanda-tanda utusan Tuhan, dengan "iman"-nya seorang fisikawan
pada instrumennya. Semuanya bisa diuji. Karena bila di dunia fisika ada
alat yang bekerjanya tidak stabil sehingga tidak bisa dipercaya, ada
pula orang yang mengaku utusan Tuhan tapi tanda-tanda yang dibawanya
tidak kuat, sehingga tidak pula bisa dipercaya.
Tanda-tanda dari
Tuhan itu hanya autentis bila menunjukkan keunggulan absolut, yang hanya
dimungkinkan oleh kehendak penciptanya (yaitu Tuhan sendiri). Sesuai
dengan zamannya, keunggulan tadi tidak tertandingi oleh peradaban yang
ada. Dan orang pembawa keunggulan itu tidak mengakui hal itu sebagai
keahliannya, namun mengatakan bahwa itu dari Tuhan !!!
Pada zaman
Nabi Musa, ketika ilmu sihir sedang jaya-jayanya, Nabi Musa yang diberi
keunggulan mengalahkan semua ahli sihir, justru mengatakan bahwa ia
tidak belajar sihir, namun semuanya itu hanya karena ijin Tuhan semata.
Demikian juga Nabi Isa, seperti yang tercantum dalam St. John 7:16-17 :
"Jesus
answered them, and said, My doctrine is not mine, but His that sent me.
If any man will do his will, he shall know of the doctrine, wheter it
be of God, or whether I speak of my self."
Nabi Muhammad Saw
datang membekal AlQur'an sebagai mukjizat terbesarnya sepanjang sejarah
peradaban yang dipenuhi dengan berbagai kandungan ilmu pengetahuan baik
agama/KeTuhanan maupun sisi ilmiah yang beberapa diantaranya baru
ditemukan kebenarannya oleh para ahli diabad ke-20.
Tapi
Rasulullah Saw tidak mengklaim bahwa itu semua hasil karyanya sendiri,
melainkan dia mengatakan bahwa itu semua dari Tuhan sesuai dengan pesan
Nabi Isa Almasih didalam Bible yang beredar sekarang.
How beit
when he, the 'spirit of truth' is come, he will guide you into all
truth; for He shall not speak of himself, but whatsoever he shall hear,
that shall he speak, and he will show you things to come."
(St. John 16:14)
Katakanlah:
"Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-rasul dan aku tidak
mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula)
terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan
kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang
memberi penjelasan". (QS. 46:9)
Secara apriori mengasosiasikan
Qur'an dengan Sains modern adalah mengherankan, apalagi jika asosiasi
tersebut berkenaan dengan hubungan harmonis dan bukan perselisihan
antara keduanya. Bukankah untuk menghadapkan suatu kitab suci dengan
pemikiran-pemikiran yang tidak ada hubungannya seperti ilmu pengetahuan
dan teknologi merupakan hal yang paradoks bagi kebanyakan orang pada
jaman ini ?
Sesungguhnya orang yang membaca AlQur'an secara
teliti dalam upaya memahami bagaimana pendiriannya terhadap Sains, ia
akan mendapatkan sekumpulan ayat-ayat yang jelas, terbentang menurut
empat bagian yang semua aspeknya mengarah kepada masalah ilmiah.
1.
Masalah-masalah yang berkaitan dengan hakikat Sains dan arah serta
tujuannya mengenai apa yang dapat diketahui dengan filsafat Sains dan
teori makrifat.
2. Metode pengungkapan tentang hakikat-hakikat ilmiah yang bermacam-macam.
3.
Menampakkan sekumpulan hukum-hukum dan peraturan-peraturan dilapangan
Sains yang bermacam-macam, terutama fisika, geographi dan ilmu hayat.
4. Menghimbau manusia agar mempergunakan hukum-hukum dan peraturan-peraturan tersebut.
Semua
ayat AlQur'an itu diturunkan mengandung hal-hal yang logis, dapat
dicapai oleh pikiran manusia, dan AlQur'an itu dijadikan mudah agar
dapat dijadikan pelajaran atau bahan pemikiran bagi kaum yang mau
memikirkan sebagaimana yang disebut dalam Surah Al-Qamar ayat 17 :
"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan AlQur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?"
(QS. 54:17)
"Dan
sesungguhnya Kami telah mendatangkan Kitab kepada mereka, Kami jelaskan
dia (kitab itu) atas dasar ilmu pengetahuan; menjadi petunjuk dan
rahmat bagi orang -orang yang beriman."
(QS. 7:52)
Namun meskipun demikian, Allah juga memberikan "permainan dinamis dan elastis" didalam memahami ayat-ayatNya.
Surah 3, Ali Imran ayat 7 menyatakan bahwa AlQur'an terbagi atas dua babak : Muhkamat dan Mutasyabihat.
"Dia-lah
yang menurunkan Kitab (AlQur'an) kepada kamu. Di antaranya ada ayat
-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi AlQur'an, dan yang lain
mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada
kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat
untuk menimbulkan fitnah /perselisihan/ dan untuk mencari-cari
pengertiannya, padahal tidak ada yang mengetahui pengertiannya melainkan
Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya akan berkata: "Kami
beriman kepada yang semua ayat-ayatnya itu dari sisi Tuhan kami, dan
tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang yang mau memikirkan."
(QS. 3:7)
Yang Muhkamat adalah petunjuk hidup yang mudah
dimengerti yang terdapat didalam AlQur'an, termasuk didalamnya masalah
halal-haram, perintah dan larangan serta hal-hal lainnya dimana
ayat-ayat tersebut dapat dipahami oleh siapa saja secara gamblang dan
mudah tanpa memerlukan pemikiran-pemikiran yang berat.
Sedangkan
Mutasyabihat adalah hal-hal yang susah dimengerti karena berupa
keterangan tentang petunjuk banyak hal yang mesti diteliti dan
merangkaikan satu sama lain hingga dengan begitu terdapat pengertian
khusus tentang hal yang dimaksudkan, termasuk didalamnya adalah dapat
diungkapkan melalui kemajuan teknologi dan cara berpikir manusia,
disitulah letak fungsinya Akal manusia sebagai suatu fitrah yang tidak
ternilai harganya.
Seandainya AlQur'an itu seluruhnya Muhkamat,
pastilah akan hilang hikmah yang berupa ujian sebagai pembenaran juga
sebagai usaha untuk memunculkan maknanya dan tidak adanya tempat untuk
merubahnya. Berpegang pada ayat Mustasyabihat saja dan mengabaikan ayat
Muhkamat, hanya akan menimbulkan fitnah dikalangan umat.
Juga
seandainya AlQur'an itu seluruhnya Mutasyabihat pastilah hilang
fungsinya sebagai pemberi keterangan dan petunjuk bagi umat manusia. Dan
ayat ini tidak mungkin dapat diamalkan dan dijadikan sandaran bagi
bangunan akidah yang benar.
Akan tetapi Allah Swt dengan
kebijaksanaanNya telah menjadikan sebagian Tasyabuh dan sisanya
Mustayabihat sebagai batu ujian bagi para hamba agar menjadi jelas siapa
yang imannya benar dan siapa pula yang didalam hatinya condong pada
kesesatan.
Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :
"(AlQur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. 3:138)
Bahwa
AlQur'an seharusnya dipandang sebagai sumber dari segala keilmuan,
tidak perlu dipermasalahkan lagi bagi umat Islam. Banyak kaum
intelegensia Muslim yang mengungkapkan bagaimana penemuan-penemuan
ilmiah yang paling mutakhir sekalipun ada diungkapkan dengan bahasa
simbolik atau juga nyata dalam AlQur'an.
Dalam berbagai tulisan
para ahli tafsir modern, akan dijumpai berbagai keberatan terhadap
pendapat dan logika para ahli tafsir klasik, hal yang sesungguhnya dapat
memperkaya pendapat yang telah ada dan menjadikannya satu kesatuan
didalam memfungsikan elastisitas dan dinamisitas Qur'an untuk seluruh
tingkatan manusia.
Ketika membaca tafsir Qur'an Nazwar Syamsu
berikut buku-buku tulisannya misalnya, kita akan dibuat berdecak kagum
betapa indah dan luar biasanya AlQur'an itu mengungkapkan teka-teki
langit dan bumi hingga pada makna Haji dan Sa'i yang nyatanya telah
menjadikan Nazwar Syamsu seorang yang kontroversial dan mendapat celaan,
olok-olokan sampai pada diberlakukannya pelarangan beredarnya tulisan
-tulisan beliau dibumi Indonesia.
Padahal hampir semua orang tahu
bahwa AlQur'an berbicara mengenai Astronomi ketika dia berhadapan
dengan para ahli Astronom, AlQur'an akan berbicara masalah penyakit dan
obatnya ketika dia berhadapan dengan seorang dokter ahli, AlQur'an juga
berbicara masalah sosial-politik ketika dia berhadapan dengan para
politikus, AlQur'an berbicara pun berbicara tentang hidup dan kehidupan
untuk para pengembara dan pencari kebenaran serta AlQur'an akan
berbicara tentang perbandingan agama ketika dia dihadapkan dengan para
Kristolog dan banyak lagi lainnya yang kesemuanya itu disesuaikan dengan
tingkat pemahaman serta kedudukan masing-masing orang yang tergabung
dalam ayat Mutasyabihat dan Muhkamat.
Hanya saja sayangnya
sebagaimana yang pernah kita singgung pada bagian-bagian terdahulu, umat
Islam cenderung lari dan mengingkari dari agamanya untuk mencari "agama
dan Tuhan-tuhan baru" yang dapat memuaskan hatinya mengikuti generasi
-generasi Ahli Kitab yang ada sebelumnya.
Mereka sebenarnya
orang-orang yang belum mengerti dan tidak pernah memahami dengan
berbagai kajian mendalam mengenai Islam tapi sudah terlalu ceroboh untuk
melakukan analisis serampangan menuruti kemauan mereka semata yang
dirasakan bahwa tingkat pemahamannya sudah jauh melebihi orang lain.
"Andaikata
kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti hancurlah langit dan
bumi serta semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah
mendatangkan kebanggaan untuk mereka namun mereka berpaling dari
kebanggaan tersebut."
(QS. 23:71)
Sampai disini kita harus
membenarkan semua petuah Qur'an dan beberapa sabda Rasul Muhammad Saw
yang menjelaskan fungsi akal dan keseimbangannya dengan Iman didalam
menyelami ajaran Ilahi.
Dimana dalam keseimbangan itu dituntut
orang yang berakal dapat memandang dan menilai sesuatu berdasarkan
realita dan keghaiban berdasarkan Dienul Islam bukan berdasarkan hawa
nafsu mereka semata yang terbatas.
"Sesungguhnya Kami benar-benar
telah membawa kebenaran kepada kalian tetapi kebanyakan di antara
kalian benci kepada kebenaran itu."
(QS. 43:78)
"Sesungguhnya
syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah
kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi
orang-orang yang musyrik."
(QS. 6:121)
Dalam ayat-ayat lainnya
Allah juga sudah menyindir manusia sebagai makhluk yang paling suka
membangkang meskipun sudah diberikan banyak sekali contoh didalam kitab
sucinya yang seharusnya dapat membuat manusia itu berkaca dari sejarah
masa lalu.
"Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi
manusia dalam Al-Qur'an ini bermacam-macam perumpamaan/contoh. Dan
manusia merupakan makhluk yang paling banyak membantah."
(QS. 18:54)
Untuk
menghadapi orang-orang seperti itu, Allah memberikan satu petunjuk
untuk menghindari perdebatan dan permusuhan semakin mencuram.
Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah: "Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan".
(QS. 22:68)
"Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk golongan yang ragu-ragu."
(QS. 2:147)
Katakanlah:
"Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa
yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, dan
keturunannya, dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa serta Nabi-nabi
dari Tuhan mereka. Kami tidak membedakan seorangpun di antara mereka dan
kepadaNya lah kami menyerahkan diri". (QS. 3:84)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar